Sabtu, 24 Maret 2012

Kembali Sehat Tanpa Obat: ASI tidak keluar


Jauharo Nafisa, 31 Tahun. Sidoarjo


Saya seorang ibu yang memiliki 3 orang putera. Putera pertama saya kini berusia 6 tahun, putera kedua berusia 4 tahun 8 bulan, dan putera ketiga berusia 2,5 bulan.

Dahulu, pada saat melahirkan putera pertama dan kedua, saya mengalami kesulitan dalam memberikan ASI, karena ASI saya tidak keluar. Oleh karena itu, saya tidak dapat memberikan ASI eksklusif kepada buah hati saya dan menggantinya dengan susu formula. Hal tersebut menyebabkan pengeluaran keuangan keluarga kami meningkat. Setelah kedua putera saya besar mereka sering mengalami gangguan makan, seperti sulit makan dan daya tahan tubuhnya menurun.

Pada saat kehamilan putera yang ketiga, Ibu Chilmi Zumaroh memperkenalkan produk-produk High-Desert, dan saya mulai mencoba mengonsumsi Pollenergy 520 sejak usia kandungan saya berumur 9 bulan. Setelah melahirkan putera yang ketiga, dosis Pollenergy saya tingkatkan.

Hasilnya sungguh luar biasa, karena ASI saya dapat keluar dengan lancar sehingga saya pun dapat memberikan ASI eksklusif pada putera ketiga saya. Sedangkan untuk putera pertama dan kedua, saya berikan mereka Honey BeepollenS. Kini, nafsu makan mereka mulai membaik demikian pula daya tahan tubuh mereka yang lebih baik dibandingkan dari sebelumnya.

Sungguh saya sangat berterima kasih pada produk-produk High-Desert.

Produk yang digunakan : Pollenergy 520

Kembali Sehat Tanpa Obat: Mioma Uteri & Kista Endometriosis


dr. Hernawati Endriani, 35 Tahun. Klaten


Kami menikah pada 27 Oktober 2001 dan pada Maret 2002 saya dinyatakan positif hamil. Namun, usia kandungan saya hanya bertahan selama 8 minggu. September 2002, saya kembali dinyatakan hamil, dan lagi-lagi saya mengalami keguguran pada usia kehamilan 7 minggu. Saya menjadi sangat sedih. Akhirnya, saya melakukan konsultasi intensif dengan dokter spesialis kandungan untuk mengetahui penyebab keguguran yang sering saya alami.

Dari pemeriksaan laboratorium dan USG tidak ditemukan penyebab keguguran. Pada Januari 2003, saya kembali hamil dan lagi-lagi cuma bertahan selama 9 minggu. Apa yang terjadi pada saya, dalam dunia medis dapat disebut Abortus Abitualisatau keguguran berulang yang terjadi sebanyak 3 kali atau lebih secara berturut-turut. Kemudian, saya melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap toksoplasma, pemeriksaan CMV, juga ACA, dan hasilnya negatif.

Hasil pemeriksaan USG yang lebih akurat menunjukkan adanya mioma uteri (miom rahim dan kista endometriosis di ovarium kanan dan kiri) yang mengakibatkan adanya gangguan implantasi (penanaman janin) ke rahim, gangguan perkembangan janin karena sebagian nutrisi yang saya terima tidak sampai ke janin, dan gangguan akibat penekanan janin karena ruang di rongga panggul menjadi sempit.

Saya pun harus menjalani terapi medis sembari mengonsumsi Dynamic Trio (Pollenergy 520, Royale Jelly Liquid, Bee Propolis Tablet) dan Clover Honey semenjak Oktober 2004. Alhamdullilah, pada Januari 2005, saya dinyatakan hamil. Namun, sempat muncul perasaan traumatis akibat 3 kali mengalami keguguran. Akan tetapi, dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT, dan terus rutin mengonsumsi produk-produk HD, saya merasa semakin sehat dan kuat.

Akhirnya, hari yang kami nantikan tiba juga, pada 29 Oktober 2005, lahirlah seorang bayi perempuan mungil yang cantik, dan kami beri nama Masayu Honey Fathima. Terima kasih Allah dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya, juga kepada kakak saya, Saptanti Yudiastuti yang telah mengenalkan produk HD kepada saya.

Produk yang digunakan : Bee Propolis, Clover Honey, Pollenergy 520, Royale Jelly Liquid

Kembali Sehat Tanpa Obat: Masalah Indung Telur


Dwi Ratna Idayanti, 41 Tahun

Walaupun usia pernikahannya sudah memasuki 10 tahun, namun Ibu Dwi belum juga dikaruniai anak. Dokter kandungan menyatakan bahwa sel indung telurnya tidak mau pecah. Sudah berbagai cara dilakukan namun tidak membuahkan hasil. 

Hingga kemudian Ibu Dwi mengenal produk HD dan mulai mengonsumsi Bee Propolis Tablet, Royale Jelly Liquid dan Pollenergy 520 meskipun pada awalnya tidak yakin dengan produk HD. Setelah mengonsumsi produk HD secara rutin dengan penuh keyakinan, akhirnya beliau dapat memiliki momongan dan kini (2005:Red) usia anaknya sudah mencapai 10 tahun, serta duduk di kelas 2 SD


Produk yang digunakan : Bee Propolis, Pollenergy 520, Royale Jelly Liquid

Kembali Sehat Tanpa Obat: Sulit punya anak


Siti Faria Thehu, 39 Tahun. Maluku

Saya menikah pada bulan Desember 1991, tetapi setelah sekian lama saya belum juga memperoleh anak. Saya dan suami memeriksakan diri ke dokter dan dinyatakan oleh dokter bahwa indung telur saya agak turun, serta volume dari sperma suami saya kurang.

Saya dan suami menjalankan pengobatan medis maupun alternatif, tetapi belum juga membuahkan hasil. Kami pun terus berusaha hingga ketika usia pernikahan kami menginjak 13 tahun, kami bertemu dengan seorang distributor High Desert yang memperkenalkan produk High Desert kepada kami.

Pada bulan Oktober 2004, kami mulai mengonsumsi Bee Propolis tablet, Pollenergy 520, Royale Jelly Liquid dan khusus untuk suami ditambah dengan Everec. Setelah beberapa minggu mengonsumsi, saya dan suami mulai merasakan  adanya perubahan, kami merasa lebih fit.

Setelah satu bulan mengonsumsi, haid saya terlambat. Memasuki bulan kedua, saya dan suami memutuskan untuk periksa ke puskesmas, dan hasilnya ternyata saya positif hamil. Saya pun melahirkan anak pertama kami pada tanggal 10 Juli 2005 dengan proses kelahiran normal. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, dan berterima kasih kepada High Desert atas produknya yang luar biasa.

Produk yang digunakan : Bee Propolis, Everec, Pollenergy 520, Royale Jelly Liquid

Kamis, 04 November 2010

Minggu, 03 Oktober 2010

Susu Formula Bikin Bayi Kegemukan

Susu Formula Bikin Bayi Kegemukan
Jumat, 1 Oktober 2010 06:13 WIB

(reuters)Jakarta (ANTARA News)- Bayi yang mengkonsumsi susu formula ternyata adalah yang paling rawan mengalami kegemukan pada usia lima tahun.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya berat badan bayi dalam waktu yang lebih cepat akan membuat bayi rentan terhadap penyakit, mulai dari sakit jantung hingga diabetes.

Penelitian itu menemukan bahwa bayi-bayi sehat yang mengkonsumsi susu formula yang diperkaya dengan protein, vitamin, dan berbagai nutrisi lainnya akan mengalami penambahan lemak tubuh sebanyak 22 sampai 38 persen ketika berusia lima sampai delapan tahun ketimbang mereka yang hanya mengonsumsi susu botolan biasa.

Para peneliti asal Inggris itu, seperti yang dikutip Daily Mail, Kamis, percaya bahwa bayi-bayi itu mengonsumsi kalori secara berlebihan dan berat badan mereka bertambah pada masa pertumbuhan yang paling krusial.

Sebuah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 20 persen orang dewasa yang menderita obesitas disebabkan oleh kelebihan nutrisi atau memiliki berat badan berlebih ketika masih bayi.

Para ibu pun pernah diwanti-wanti untuk memberikan nutrisi yang diperkaya untuk anak yang kekurangan berat badan, jika mereka tidak bisa memberikan ASI. Kini, para dokter menegaskan bahwa "menggemukkan" bayi hanya perlu untuk yang lahir prematur.

"Studi ini mendukung program ASI, karena dengan ASI bayi tidak bisa mengalami kelebihan makanan," kata Professor Atul Singhal dari MRC Chilhood Nutrition Research Centre, di University College London, yang memimpin penelitian itu.

"Dan temuan itu juga akan menjadi perhatian produsen susu formula untuk lebih meningkatkan produk mereka," ia melanjutkan.

Para peneliti itu meneliti sejumlah kecil bayi yang baru dilahirkan di beberapa rumah sakit di Cambridge, Nottingham, Leicester, dan Glasgow.

Dalam melakukan penelitian itu para ilmuwan maupun para ibu tidak mengetahui jenis susu formula mana yang dikonsumsi oleh bayi, apakah yang standar atau susu formula khusus yang mengandung berbagai vitamin, protein, dan mineral.

Dalam penelitian pertama, yang diikuti oleh 299 bayi kelahiran 1993 dan 1995, susu-susu formula yang diperkaya berbagai nutrisi itu dikonsumsi selama sembilan bulan.

Studi kedua melibatkan 246 bayi yang lahir antara 2003 sampai 2005 dihentikan lebih awal karena ada bukti yang menghubungkan antara kelebihan nutrisi dan obesitas yang ditemukan pada penelitian pertama.

Inggris adalah salah satu negara dengan angka pemberian ASI terendah di Eropa, dengan rata-rata satu dari tiga ibu baru tidak memberi ASI pada anaknya.

Sementara itu sebuah penelitian sebelumnya juga mengemukakan bahwa bayi yang awalnya mengonsumsi susu formula kemudian berpindah ke makanan padat lebih cepat dari pada yang disarankan, yakni enam bulan, akan menjadi anak yang bertumbuh paling cepat.

Para pakar percaya hubungan antara kalori yang dicerna dan berat badan sangat kuat pada bayi ketimbang pada anak yang berusia lebih tua.

ASI diyakini berkaitan dengan pertambahan berat yang lebih perlahan, sebaliknya susu formula akan meningkatkan produksi sel lemak tubuh sehingga berat badan bayi akan bertambah dengan cepat.
(Ber/A038/BRT)

Minggu, 17 Februari 2008

Ternyata mengelola lebih menguntungkan

Saya adalah seorang kayawan perusahaan swasta, teknisi bagian perawatan mesin. Sudah hampir 10 tahun saya bekerja di perusahaan yang sekarang. Sudah berkeluarga dan memiliki 1 orang anak perempuan berusia 10 tahun. Setiap pulang kerja saya selalu menyempatkan diri untuk mendengarkan ceritanya di sekolah hari itu. Kebahagiaan saya saat mendengar ceritanya rasanya sulit digambarkan.

Tetapi hari ini lain, saya terpaksa pulang cepat dari kantor karena ada berita anak saya ini sakit, demam tinggi secara tiba-tiba. Padahal hari itu masih ada tugas yang belum saya selesaikan, beberapa mesin belum selesai saya inspeksi. Tetapi untunglah perusahaan saya sangat perhatian dengan keluarga karyawannya sehingga saya diijinkan pulang cepat. Bahkan kendaraan dinas saya pun boleh dibawa, kalau-kalau perlu membawa anak saya ke rumah sakit.

Rasanya ada sesuatu yang dicabut dari hati saya waktu mendengar anak saya ini demam tinggi. Apa jadinya saya kalau ada apa-apa dengan anak saya? Lalu apa artinya saya bekerja keras selama ini kalau tidak bisa melindungi keluarga saya? Dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam hati itu, saya pacu kendaraan dinas saya untuk cepat sampai di rumah.

Sesampainya di rumah, saya langsung menggendong anak saya masuk ke mobil dan membawanya ke dokter. Untung istri saya cepat tanggap, sebelum saya datang dia sudah mempersiapkan diri untuk membawa anak kami ke dokter. Sayangnya dokter langganan kami saat itu sedang tidak praktek, beliau sedang di luar kota. Tetapi saat ditelpon beliau menyarankan untuk langsung dibawa ke rumah sakit bagian gawat darurat, ”Takutnya tifus atau demam berdarah Pak.” begitu katanya.

Saya langsung membawa anak saya ke rumah sakit langganan perusahaan, di sana anak saya langsung ditangani. Sayangnya saat itu banyak pasien yang baru masuk sehingga dokter tidak bisa segera memeriksa anak saya. Setelah menunggu cukup lama baru anak saya diperiksa dokter. Dokter menyarankan anak saya diuji lab untuk memastikan penyakitnya, apakah demam berdarah atau tifus.

Saya memutuskan untuk mengambil cuti yang tersisa untuk mendampingi anak saya yang ternyata terkena demam berdaran dengue (DBD), karena walaupun saya memaksakan masuk kantor saya tidak dapat memfokuskan pikiran saya pada pekerjaan. Selama beberapa hari itu saya baru tahu bahwa justru setelah demamnya turun malah merupakan masa kritis bagi penderita DBD, saat di mana keluarga pasien sudah berlega hati dan melonggarkan kewaspadaan, bahkan ada yang membawa pasien pulang ke rumah. Banyak sekali kesalahan keluarga pasien yang sering terjadi yang membahayakan pasien karena keterbatasan pengetahuan.

Saya termasuk beruntung karena sebagai karyawan perusahaan keluarga saya dilindungi asuransi, seluruh biaya pengobatan ditanggung, memiliki dokter dan rumah sakit langganan perusahaan, perusahaan saya juga bertoleransi memberi kesempatan karyawannya menyelesaikan urusan kesehatan keluarganya. Bayangkan kalau saya tidak mendapatkan semua kemudahan itu, betapa paniknya saya, berapa banyak biaya yang harus disediakan, bagaimana saya bisa konsentrasi bekerja? Saya bersyukur pada Tuhan karena mendapat perusahaan yang baik. Tetapi di luar itu semua saya baru menyadari bahwa segala kemudahan yang saya miliki untuk kesehatan keluarga saya hanyalah untuk rehabilitasi. Dokter, rumah sakit, asuransi, kesempatan cuti, semuanya hanya berfungsi saat ada yang sakit, tetapi tidak ada program yang mencegah agar keluarga saya tidak sakit. Sebagai teknisi mesin saya mengetahui bahwa lebih baik mencegah daripada memperbaiki, lebih baik mengelola kesehatan daripada mengobati.

Saat ini saya mengikuti program kesehatan yang membuat keluarga saya bisa mengelola kesehatan secara praktis, mengenali jenis-jenis penyakit sebelum parah dan bahkan membantu orang lain mengelola kesehatan keluarganya. Kalau anda pun seperti saya, keluarga sebagai prioritas, saya sarankan untuk mulai memikirkan cara mencegah keluarga anda terhindar dari penyakit daripada mengandalkan pengobatan ketika penyakit sudah menyerang.


Kiriman dari salah seorang teman di luar Bandung, nama dan tempat dihapuskan, kalimat agak diformalkan.